Text
الخواف الإسلامي بين الحقيقة والتضليل
Bahasa Arab :
على الرغم من أن مسألة التخويف من الإسلام قديمة نسبياً من حيث ظروفها وملابساتها، بيد أنها لم تُشحَن في العقلية الغربية بصورة مركزة ومكفة على هذا النحو، وهو الأسوأ من نوعه في التاريخ، إلا في أواخر القرن العشرين. فلقد كانت ثلة من المعنيين بالشؤون الإستراتيجية في الغرب، والولايات المتحدة الأمريكية، ولا سيما المفكرون والفلاسفة غير الحزبيين، غير مبتهجة بنهاية «الحرب الباردة»، كما أنهم لم يحفلوا كثيراً بأطروحات الكُتّاب التي تدلل على مدى الزهو والانتشاء الساذج نتيجة الإحساس الغامر ببلوغ العالم نهاية التاريخ على متن الليبرالية الحرة، فراحوا يبحثون عن عدو جديد تكتمل به ثانية حلقات مسلسل الصراع في الفكر الغربي. ولعله من الملاحظ أن هناك إصراراً عجيباً من جانب غالبية الساسة والمفكرين والكتاب والصحفيين ورجال الكنيسة على تعميق القناعات الغربية بأن الإسلام دين تطرف وعنف وإرهاب، وأنه دين غير قادر على التلاقي والتعايش والتسامح والحوار، وغير ذلك من الافتراءات التي أعان عليها قوم من بني جلدتنا، مع كل أسف ومرارة. فأي شكل يمكن أن يفيده الغرب من تلك الهجمة التخويفية الشرسة المنظمة على دين أحوج ما تكون الإنسانية إلى قيمه الروحية وإشعاعاته الحضارية، بعيداً عن دوامة التعصب والأنانية التي يتقلب في حُمّاتها العالم الغربي المعاصر؟
Bahasa Indonesia :
Meskipun isu menakut-nakuti masyarakat terhadap Islam telah ada sejak lama, dengan berbagai latar belakang dan keadaan yang melingkupinya, gambaran tersebut baru ditanamkan secara terfokus dan intensif dalam pola pikir Barat pada akhir abad ke-20, dalam bentuk yang dinilai sebagai yang paling buruk sepanjang sejarah.
Sejumlah pakar strategi di Barat, khususnya di Amerika Serikat, terutama para pemikir dan filsuf yang tidak berafiliasi dengan partai politik, merasa tidak sepenuhnya puas dengan berakhirnya Perang Dingin. Mereka juga tidak terlalu menerima berbagai teori yang menyatakan bahwa dunia telah mencapai "akhir sejarah" melalui kemenangan liberalisme. Karena itu, mereka mulai mencari musuh baru agar pola konflik dalam pemikiran Barat dapat terus berlanjut.
Penulis juga menyoroti adanya upaya yang terus-menerus dari sebagian besar politisi, intelektual, penulis, jurnalis, dan tokoh gereja untuk memperkuat keyakinan masyarakat Barat bahwa Islam identik dengan ekstremisme, kekerasan, dan terorisme; agama yang dianggap tidak mampu hidup berdampingan, bertoleransi, maupun berdialog. Berbagai tuduhan tersebut, menurut penulis, bahkan diperkuat oleh sebagian orang dari kalangan umat Islam sendiri.
Melalui pembahasan ini, penulis mengajukan pertanyaan mengenai manfaat yang ingin diperoleh Barat dari kampanye sistematis untuk menakut-nakuti masyarakat terhadap Islam, padahal umat manusia justru sangat membutuhkan nilai-nilai spiritual dan peradaban yang ditawarkan Islam, terutama di tengah krisis fanatisme dan egoisme yang, menurut penulis, tengah melanda dunia Barat kontemporer.
Tidak tersedia versi lain