Text
Menakar harga perempuan
Buku ini mencoba membahasnya dari sisi sistem politik, ekonomi, nilai-nilai, etika, dan agama. Berbeda dari perspektif biasanya yang memandang reproduksi dari sisi medis an sich. Harapannya agar kasus demi kasus dapat dipecahkan secara menyeluruh, dengan melihat pelbagai perspektif.
Menakar ‘harga’ perempuan sebagai simbolisasi seberapa jauh kita speak up terhadap isu ini: membicarakan hak reproduksi, laki-laki atau suami memiliki kesadaran keadilan gender, bisa bekerja sama dalam urusan domestik, bertanggung jawab menjadi suami siap antar jaga saat proses kehamilan dan melahirkan, yang intinya bisa berbagi peran untuk perempuan lebih berdaya.
Buku ditulis oleh para pakar yang memiliki concern pada isu-isu perempuan, seperti Lies Marcoes, Kiai Husein Muhammad, Indraswari, hingga Gus Dur. Dalam tulisannya, Gus Dur mengawali dengan mengkritik penelitian yang dilakukan oleh Indraswari, yang mana tidak cukup menangkap kesedihan dalam melihat kasus kawin muda, yang dilihat hanya faktor usianya. Tetapi harus memandang lebih jauh lagi seberapa besar usia perkawinan itu. Gus Dur mencontohkan kasus Nabi Saw menikahi Aisyah saat usianya masih 9 tahun.
Lebih jauh, Gus Dur memotret nikah muda tidak hanya sebatas faktor sosial budaya, yang dianggap wajar masyarakat, tetapi bagian dari proses patronase sosial ekonomi dan sosial politik. Sehingga pernikahan hanya dipandang sebatas akad, bukan sebagai proses menuju kehidupan.
Selanjutnya, agama harus mampu mendorong kemaslahatan, menghindarkan praktik-praktik yang melegalkan kemudharatan. Dampak dari nikah muda adalah kian longgarnya nilai-nilai, dengan begitu akan membentuk masyarakat yang permisif, masyarakat yang melakukan pembenaran terhadap hal-hal yang dilarang agama.
Sumber: gusdur.net
Tidak tersedia versi lain