Nilai penting buku ini terletak pada pembongkarannya atas konsep mukmin dan kafir. Bagi penulis buku ini, seorang mukmin bukanlah sekadar orang yang eprcaya pada Tuhan, melainkan juga ia mau berjuang menegakkan keadilan dan melawan segala bentuk kezaliman dan penindasan. Jika tidak, ia masih digolongkan sebagai orang kafir, meskipun ia percaya pada Tuhan.
Abu Nawas adalah sosok yang unik, cerdik, sekaligus kontroversial, ia sedang mengabaikan shalat dan ibadah haji, gemar minim khamr, suka merayu perempuan, dan menyukai sesama jenis. Namun demikian dari pribadi yang secara lahirlah banyak melanggar aturan agama inilah muncul sebagai Teologi Negatif, sebuah pemikiran teologis yang berusaha mengungkapkan unsur-unsur substansial dari ajaran agama y…