Politik santri telah bermula sejak pra kemerdekaan. Namun politik santri di masa itu lebih dimotivasi spirit resistensi terhadap kolonial. Peran pesantern sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Islam di masa itu tidak lagi sekadar tempat belajar, tetapi sebagai lokus doktrinisasi melawan penjajah. Sikap yang demikian dianggap paling nasionalis kala itu, meskipun maut taruhannya.