Text
Berdzikir dalam puisi
"Macet sana sini seantero negeri. dari transportasi hingga birokrasi, kecelakaan diri tanpa terkendali, macet ilmu dan budi pekerti sumber petaka insani". Membaca penggalan puisi Pak Herli ini, saya merasa tersentak, karena ada diksi di sini yang sedikit menohok saya. Itu memang pembacaan subyektif saya setelah diminta sang penulis untuk sedikit memberi catatan atas karya kreatifnya. Tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa, selain menikmati karena memang ini karya imajinasi yang tentu saja terinspirasi oleh kenyataan. Pastinya dari sang penulis karya ini dipicu keinginan untuk turut berkontribusi atas peradaban yang terus bergerak maju. Dan saya mengapresiasi untuk soal ini. Berpuisi, atau lebih tepatnya berkarya lewat sastra, memang jalan yang perlu ditempuh ketika sarana komunikasi yang formal tersumbat. Adakalanya sumbatan itu dibuat dan disadari oleh penguasa karena mengancam ketenangannya, tapi ada juga karena faktor lain yang tidak diketahui. Baik karena disengaja atau tidak, sebagai bagian dari peradaban, kita ikut bertanggungjawab untuk terbukanya saluran komunikasi di level manapun kita berada. Bila kita tidak bisa melakukan hal itu, berarti ilmu dan budi pekerti kita patut dipertanyakan, begitu Pak Herli mengulangi tohokannya...(M. Faisol Fatawi)
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain