Kita tentu menaruh harapan agar CSRC masjid dapat mengoptimalkan perannya dalam membentuk karakter masyarakat. Harapan yang sama juga disuarakan oleh takmir masjid. Mereka umumnya menganggap masjid bukan sekedar tempat ibadah , tapi juga wahana idela bagi pendidikan literasi keagamaan. Hanya saja pertanyaannya kemudian seperti apa dan bagaimana literasi keagamaan dipraktikkan di masjid? Bebera…
Dalam buku ini terdapat berbagai jenis tulisan, diantaranya berupa sajian berita peristiwa, kisah-kisah hikmah, dan juga renungan. Sangat menarik, dibalut dengan diksi-diksi yang unik dan menggelitik. Pada intinya, buku ini tealh menyajikan bahwa kelangsungan hidup generasi bangsa ada di pundak kita semua. Di mana kita sebagai anak bangsa harus memiliki kesadaran dan harapan yang tinggi untuk k…
Buku ini berisi tiga pemikiran penting al-Ghazali (1058-1111 M), yaitu Toleransi, Kebenaran dan Kebahagiaan. Tiga tema ini dijelaskan berdasarkan tiga karya al-Ghazali, yaitu Faṣl al-Tafriqah, al-Munqidh min al-Ḍalâl, dan Kimyâ al-Sa’âdah, ditambah al-Qawa’id al-Asyr (10 Prinsip Laku Sufi). Terjemahan keempat karya al-Ghazali tersebut disertakan dalam buku ini sehingga pembaca dapat …
Pendidikan karakter religius menjadi salah satu solusi atas problem krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kunci kesuksesan pendidikan karakter religius manakala dapat teraktualisasi dalam kehidupan seharihari oleh suatu masyarakat. Untuk mencapai kearah itu, maka dibutuhkan manajemen yang tepat dan efektif. Lembaga pendidikan Islam boarding school menjadi salah satu lembaga yang membentu…
Buku ini mengomparasikan perspektif Psikologi Agama (Barat) dengan Psikologi Islami tentang berbagai isu keberagaman (religiositas). Mengkaji isu ini cukup menantang bagi para peminat kajian Psikologi Agama, Antropologi Agama, dan Psikologi Islami. Harapannya akan melahirkan reformulasi model interkoneksi antara Psikologi Agama (Barat) dan Psikologi Islami. Apalagi setelah menyadari disiplin il…
Politik santri telah bermula sejak pra kemerdekaan. Namun politik santri di masa itu lebih dimotivasi spirit resistensi terhadap kolonial. Peran pesantern sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Islam di masa itu tidak lagi sekadar tempat belajar, tetapi sebagai lokus doktrinisasi melawan penjajah. Sikap yang demikian dianggap paling nasionalis kala itu, meskipun maut taruhannya.